Kamis, 10 Maret 2016

Tips Sukses Bisnis Wedding

 Menggapai Sukses Bisnis Wedding


Maraknya pelaku bisnis di Ibukota saat ini kian menampakkan antusias bisnis yang semakin menggeliat. Salah satu jenis kegiatan usaha yang terus berkembang hingga saat ini ialah dibidang jasa, terlebih jika dilihat dari kepadatan jumlah penduduk di Indonesia yang semakin meningkat. Bisnis jasa pelaksana pernikahan atau yang lebih dikenal dengan sebutan wedding organizer (W.O) merupakan pilihan jitu untuk dikembangkan.

Meskipun bisa dibilang bisnis musiman, namun sejatinya prospek usaha jasa pernikahan seperti ini tergolong cukup menjanjikan. Sebab jika diamati, bisnis W.O merupakan jenis usaha dengan tingkat resiko rendah. Artinya, untuk menjalankan usaha ini tidak memerlukan ruang kantor yang besar dalam mengelola pesanan klien, karena yang terpenting bagi pelaku bisnis W.O ialah  kreatifitas atau kemampuan dasar mengenai bisnis wedding, mudah berkomunikasi, dan memilki banyak relasi dengan vendor yang menyediakan kebutuhan pernikahan.

Karena itu jangan heran bila anda melihat wedding organizer yang berkedok sebagai butik, studio foto, catering, bahkan dekorasi dan tenda pengantin. Hal itu dilakukan untuk bisa terus menambah pemasukan di luar pesanan wedding yang sifatnya musiman tersebut. Namun berhubung W. O tergolong bisnis jasa, maka prioritas yang harus diutamakan ialah soal kualitas pelayanannya.


Dalam hal tata rias misalnya, Hj. Inne Rosdiana Dewi, pemilik Wedding Organizer dan butik muslimah Syakeera mengatakan, tata rias merupakan unsur penting dalam sebuah perhelatan akbar momen pernikahan, sehingga kita dituntut untuk selalu kreatif agar bisa memenuhi keinginan klien yang beragam. “Jika anda memiliki hobi jahit seperti saya, maka itu menjadi modal besar dalam meraih kesuksesan pada bisnis wedding ini,” ucapnya.


Kemudian yang tak kalah penting dari tata rias ialah sesi dokumentasi, di mana setiap pengantin tentunya ingin mengabadikan momen-momen bahagia pada acara pernikahannya. Seperti diungkapkan pengelola Sukmajaya Photo Digital, Burhanudin Ayub bahwa fotografi menjadi potensi besar untuk meraih keuntungan melalui bisnis wedding.

Meski di era digital sekarang ini semua orang sudah bisa memotret, namun untuk soal kualitas hanya ahlinya yang paham. Untuk itu, lanjut Ayub, bisnis foto wedding tidak akan mati selama kita mampu menguasai angel dan pencahayaan yang sempurna. “Hal ini tentunya akan berimbas pada kepuasan klien terhadap hasil foto yang kita buat,” jelasnya.


Bidang lain yang juga penting dalam mendukung kesuksesan sebuah pergelaran acara pesta pernikahan ialah catering dan dekorasi tenda. Pemilik catering dan W.O Ibu Tata menilai bisnis catering weeding cukup menguntungkan, sebab dalam acara pesta pernikahan catering menjadi andalan pengantin dalam menjamu tamu undangan yang hadir. Untuk itu perlu menjaga kualitas makanan agar sajian yang dihidangkan dapat member kepuasan kepada para tamu.


Sementara untuk dekorasi dan tenda wedding Muhammad Subhan mengaku tak pernah kehilangan order untuk pemesanan tenda. Pengelola usaha Tenda Biru itu menyebutkan, menjalani bisnis ini memang membutuhkan modal yang cukup besar, terutama untuk harga perangkat tenda yang semakin mahal.

“Namun jika kita memiliki tekad kuat untuk memperluas jaringan serta pasar, hal ini tentunya akan membuat kita cepat balik modal dan meraup keuntungan,” ujarnya.

Dari semua paparan mengenai atribut pelayanan bisnis wedding tersebut, dapat kita simpulkan bahwa unsur terpenting bagi pelaku usaha dibidang jasa ialah mengenai kualitas pelayanan. Di samping itu tentunya perlu perluasan jaringan usaha agar bisnis yang dijalankan semakin berkembang dan maju.


Semoga artikel singkat mengenai jasa bisnis wedding yang diangkat dari berbaga narasumber berkredibel ini dapat memberi manfaat sekaligus menjadi referensi yang baik bagi para peminat bisnis.

Rabu, 09 Maret 2016

Tips Untuk Meraih Kesuksesan

Langkah Jitu Meraih Sukses

Pada artikel sebelumnya, Robert T. Kiyosaki menjelaskan bagaimana kesuksesan seseorang dapat diraih melalui karakter mental yang terbentuk dalam diri seseorang. Dalam bukunya yang berjudul The Cashflow Quadrant, Kiyosaki membagi karakteristik mental seseorang menjadi 4 (empat) kuadran, yaitu Kuadran E (Employee), Kuadran S (Self Employed), Kuadran B (Bussiness Owner), dan Kuadran I (Investor). Masing-masing kuadran tersebut tentu memiliki tantangan dan rintangan yang berbeda untuk meningkatkan mental seseorang mencapai tingkat kebebasan financial dalam Kuadran I.

Dalam Kuadran E, seseorang dikategorikan memiliki mental datar karena enggan berhadapan dengan risiko bisnis. Biasanya orang yang bermental Employee, cenderung lebih memilih bekerja di suatu perusahaan dengan mempertaruhkan waktu dan tenaga agar dapat meraih titik aman pada penghasilannya. Namun seiring berjalan waktu, orang yang berprofesi sebagai karyawan tentu akan mengalami masa pensiun, lantas bagaimana ia harus menjalankan kehidupannya untuk mempertahankan dan meningkatkan laju pendapatan tersebut?

Sejalan dengan pemikiran Kiyosaki, seseorang dituntut untuk memiliki karakteristik mental yang kuat dalam upaya menggapai suatu kesuksesan usaha dan berada dalam Kuadran B atau Kuadran I. Hal ini tentu membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi untuk menghadirkan kesiapan matang baik mental maupun wawasan, sehingga keyakinan akan kesuksesan dapat tumbuh.

Sebagai contoh, seorang karyawan atau buruh harus bisa berpikir realistis tentang masa depannya. Ia harus menyadari bahwa suatu saat dirinya akan mengalami masa tidak produktif, dimana waktu dan tenaga tidak lagi sanggup menopang kebutuhan hidup yang semakin meningkat.

Untuk itu, selagi masih produktif, karyawan atau buruh tersebut sebaiknya mulai berpikir terbuka untuk mengembangkan suatu usaha yang nantinya dapat ia andalkan sebagai mata pencaharian. Dengan begitu ia harus mulai mempersiapkan diri memasuki Kuadran B atau Kuadran I, tentunya hal ini juga berpengaruh pada kesiapan modal usahanya.

Jika anda tergolong sebagai pemilik modal yang minim, mulailah untuk membuka usaha kecil-kecilan di waktu senggang anda. Menjadi reseller produk online juga merupakan referensi yang bagus untuk menambah penghasilan. Namun begitu, tak lupa juga untuk mengikuti organisasi atau komunitas bisnis yang ada disekitar anda, karena dari situlah anda bisa meraih informasi serta jaringan yang efektif dalam upaya pengembangan bisnis anda. Dengan begitu anda akan langsung berada dalam Kuadran B dan mulai berpikir untuk mengembangkan sistem bisnis yang membangun.

Namun jika anda termasuk dalam pemilik modal besar, maka anda bisa langsung memasuki Kuadran I dan lebih berkonsentrasi di bidang investasi. Sehingga waktu dan tenaga anda menjadi lebih hemat, sementara uang yang bekerja untuk anda.

Kenalilah segala risiko bisnis anda dan rangkul lingkungan anda, dengan begitu anda akan semakin mantap menuju kesuksesan.

Selasa, 08 Maret 2016

Mengenal Cashflow Quadrant dan Karakteristik Kesuksesan

CASHFLOW QUADRANT DAN KARAKTERISTIK KESUKSESAN

Berbicara tentang kesuksesan, tentu semua orang mendambakannya. Namun sering kali kita dihadapkan pada pemahaman rumit tentang makna kesuksesan itu sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kesuksesan suatu usaha adalah ketika kita merasa aman di suatu titik tertentu dengan penghasilan yang diraih. Bahkan tak sedikit yang menilai kesuksesan yaitu saat kita mencapai kebebasan financial, artinya tidak perlu bekerja terikat oleh waktu, tetapi penghasilan atau uang yang justru menghampiri kita.

Untuk memahami pengertian tentang makna kesuksesan tersebut, Robert T. Kiyosaki seorang penulis ternama yang mengarang buku “The Cashflow Quadrant”, membagi kriteria mental kesuksesan seseorang dalam 4 (empat) kuadran  antara lain:

1. Mental E = Employee (Pekerja Buruh atau Karyawan)
Dalam kuadran ini seseorang cenderung hanya mencari titik aman bagi perekonomiannya dengan bekerja dan memiliki penghasilan tetap. Tentunya hal ini akan menyita banyak waktu dan tenaga, karena setiap uang yang kita kumpulkan harus dibayar dengan kerja keras demi mempertahankan posisi atau titik aman tersebut.
Contoh: Seorang karyawan yang bekerja di suatu perusahaan tentu harus tunduk pada aturan dan prosedur yang berlaku dalam perusahaan tersebut. Sehingga dirinya mampu bertahan dalam titik penghasilan tertentu.

2. Mental S  = Self Employed (Pengusaha Kecil)
Seseorang yang berada dalam kuadran S dapat dikatakan memliki waktu yang lebih bebas dari kuadran E, namun konsekuensi yang dimiliki justru dapat berarti lebih berat dari kuadran E. Pasalnya, pada kuadran S seseorang dituntut mampu bekerja dengan sangat giat karena penghasilan yang mereka dapat tergantung pada kerasnya usaha yang mereka lakukan agar mencapai titik aman perekonomiannya.
Contoh: Seorang pedagang keliling harus mampu bekerja siang hingga malam untuk menghabiskan barang dagangannya dan mencapai keuntungan usaha.

3. Mental B = Business owner (Pemilik Usaha)
Pada kuadran ini seseorang dituntut untuk berpikir lebih keras dan inovatif agar dapat membentuk suatu Sistem yang membangun bagi usahanya. Artinya, kita dapat bekerja dengan santai dan tidak terikat waktu karena orang lain yang akan bekerja untuk kita dalam menghasilkan pendapatan yang tidak terbatas.
Contoh: Seorang pemilik usaha butik akan lebih berpikir untuk mengembangkan jaringan dan informasi agar dapat meningkatkan penjualan dan mengikuti trend mode terbaru.

4. Mental I = Investor (Penanam Modal)
Kuadran I merupakan titik dimana uang akan bergerak menghampiri anda. Hal ini dapat kita lakukan dengan cara menanamkan modal atau berinvestasi pada perusahaan yang tengah berkembang ataupun yang sudah maju. Sehingga secara teknis, kita tidak lagi terlibat dalam pekerjaan yang banyak menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Namun begitu, untuk mencapai tahap ini tentunya dibutuhkan modal yang cukup besar.
Contoh: Amir memiliki simpanan dana sebesar 100 juta rupiah, dan ia investasikan ke sebuah perusahaan maju dengan kesepakatan laba sebesar 10% per bulan. Sehingga tanpa harus bekerja Amir bisa mendapatkan penghasilan 10 juta per bulan.

Dari seluruh penjelasan mengenai Cashflow Quadrant ala Robert T. Kiyosaki diatas, dapat disimpulkan bahwa Cashflow Quadrant merupakan gambaran tingkatan mental seseorang dalam meraih kebebasan financial.

Seperti ungkapan Robert T. Kiyosaki yang dikutip dari bukunya berjudul The Cashflow Quadrant, “Jika anda ingin mendapatkan penghasilan tak terbatas dengan waktu yang luang maka Anda harus masuk ke kuadran kanan B atau I”.

Sebagai contoh sederhana kami gambarkan bahwa seorang penjual bakso keliling juga mampu meraih kesuksesan yang besar selama dia memiliki mental dalam kuadran B atau I.
Penjual bakso keliling, dia seorang wiraswasta. Namun kalau mentalnya adalah mental “E” (Employee), maka usaha baksonya sulit untuk berkembang. Jika berusaha meningkatkan mentalnya menjadi mental “S” (Self Employed), maka usaha baksonya bisa berkembang walaupun perkembangannya lambat, sehingga pelanggannya banyak, omsetnya bertambah.
Jika dia berusaha keras meningkatkan mentalnya sehingga memiliki mental “B” (Business Owner), maka usaha baksonya akan berkembang dengan cepat bahkan mampu membuka lapangan kerja, mampu membentuk tim, mampu mensejahterakan banyak orang. Sehingga dia akan memiliki restoran bakso atau mengembangkan banyak unit bakso keliling.

Dengan begitu, yang terpenting dalam meraih kebebasan financial adalah membentuk  mentalnya dan bukan dilihat dari profesinya. Apakah anda sebagai karyawan, atau sedang wiraswasta, atau berprofesi pengacara, notaris, dokter, dsb, maka tingkatkan mental anda.


Demikian sedikit pemahaman yang kami gambarkan dari penjelasan Robert T. Kiyosaki mengenai Cashflow Quadrant, semoga bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi motivasi yang baik bagi pengembangan bisnis anda.